MUARA BUNGO – Proyek pembangunan penahan tebing dan perbaikan jalan di Jalan Lintas Sumatera Km 53, tepatnya di depan PT Starubber, menuai keluhan warga. Proyek bernilai Rp10 miliar yang dibiayai dari dana APBN ini merupakan tindak lanjut pasca longsor pada tahun 2024 lalu.
Namun, pelaksanaan proyek tersebut kini menimbulkan masalah baru. Debu yang berterbangan akibat aktivitas pekerjaan proyek masuk hingga ke pemukiman warga. Tidak hanya warga, para pengguna jalan juga turut terdampak karena debu cukup tebal dan mengganggu kenyamanan saat melintas.
Salah satu yang paling merasakan dampaknya adalah sebuah rumah makan bernama *Tiga Putri* yang terletak dekat dengan lokasi proyek. Rumah makan ini terpaksa menutup usahanya sementara waktu karena debu masuk ke dalam ruangan sehingga pengunjung enggan makan di tempat.
“Betul, kami warga di sini kena imbas akibat debu. Rumah makan saya tutup karena debu masuk ke warung. Orang tidak mau makan karena debu,” ungkap Heri, salah seorang warga sekaligus pemilik rumah makan, Jumat (5/9/2025).
Ia menambahkan, kerugian dialami bukan hanya dari sisi kesehatan, melainkan juga ekonomi karena tempat usaha yang menjadi sumber penghasilan harus berhenti beroperasi. “Kami berharap pihak proyek bisa menyiram jalan atau area pekerjaan agar debu tidak berterbangan ke pemukiman. Akibat debu ini, kami sangat dirugikan,” keluhnya.
Keluhan warga ini mencerminkan perlunya perhatian dari pihak kontraktor maupun pengawas proyek agar dampak lingkungan tidak menimbulkan masalah baru bagi masyarakat. Apalagi, proyek pembangunan infrastruktur seharusnya membawa manfaat, bukan justru merugikan warga sekitar.
Warga berharap ada langkah cepat, seperti penyiraman jalan secara rutin dan pemasangan penghalang debu, agar kegiatan proyek bisa berjalan lancar tanpa mengorbankan kesehatan dan kenyamanan masyarakat sekitar. (Azhar)





