Harmonis dalam Perbedaan, SDN 163 Kampung Baru Patenun Jadi Contoh Toleransi Pendidikan di Jujuhan

MUARA BUNGO– Sekolah Dasar Negeri (SDN) 163 Kampung Baru Patenun, Dusun Rantau Ikil, menjadi simbol kerukunan dan toleransi di tengah keberagaman suku dan agama. Dipimpin oleh Kiki Aksa, sekolah ini merupakan satu-satunya SD negeri di Kecamatan Jujuhan yang memiliki 30 persen siswa non-muslim.

 

Keberagaman siswa berasal dari berbagai latar belakang suku seperti Melayu, Batak, Jawa, dan Minang. Sekitar 50 persen penduduk Kampung Baru Patenun sendiri berasal dari suku Batak, sehingga tak heran jika komposisi siswa pun mencerminkan kondisi sosial masyarakat setempat.

Bacaan Lainnya

 

Meski berlatar belakang berbeda, proses belajar mengajar di SDN 163 tetap berjalan harmonis tanpa perbedaan perlakuan. Semua siswa mendapatkan hak belajar yang sama. Kepala Sekolah Kiki Aksa menegaskan bahwa pendidikan di sekolah ini bersifat inklusif dan terbuka.

 

“Sekolah kami memang memiliki 30 persen siswa non-muslim, namun hubungan antar siswa dan orang tua tetap baik dan kompak dalam memajukan sekolah ini. Kami tidak membeda-bedakan siapa pun karena tugas kami adalah mencerdaskan anak bangsa,” ujar Kiki.

 

Untuk pelajaran agama Islam, siswa non-muslim diberikan tugas khusus di ruang perpustakaan. Namun, jika ada siswa non-muslim yang ingin mengikuti pelajaran agama Islam atas kemauan sendiri, pihak sekolah tidak melarang. “Belajar itu tidak ada batasnya, selama anak-anak senang dan ingin tahu, kami akan mendampingi,” tambahnya.

 

Tahun ajaran baru 2025, SDN 163 telah menerima 34 siswa baru. Hal ini menunjukkan kepercayaan masyarakat yang terus tumbuh terhadap kualitas dan lingkungan pendidikan sekolah tersebut.

 

Namun demikian, masih ada tantangan yang dihadapi pihak sekolah. Akses jalan menuju sekolah yang belum beraspal sering menjadi kendala, terutama saat musim hujan. “Kami sangat berharap ada perhatian dari pihak terkait untuk pengaspalan jalan menuju sekolah. Saat hujan, anak-anak harus melewati jalan berlumpur yang cukup memprihatinkan,” tutup Kiki.

 

SDN 163 Kampung Baru Patenun menjadi bukti nyata bahwa pendidikan bisa menjadi jembatan harmonisasi di tengah perbedaan. Sebuah contoh keberagaman yang patut diapresiasi.

Pos terkait